Saturday, October 01, 2005

Megapolitan Nan Rindang



Sempat beberapa kali jalan-jalan ke Batam naik ferry dari Singapura yang cuman menempuh 1 jam penyebrangan. Ada yang menggelitik hati ini ketika melihat pembangunan perumahan-perumahan maupun ruko-ruko di daerah Batam yang menggunakan cara-cara babat habis pohon-pohonnya sebelum membangun bangunan-bangunan. Sehingga terlihat sangat banyak perumahan-perumahan yang sangat gersang tanpa satu pun ditumbuhi pohon-pohon peneduh. Namun saya kira ini tidak hanya di Batam. Di Jakarta dan Bekasi dimana saya pernah tinggal pun demikian. Banyak pembangunan perumahan-perumahan baru terutama yang kelas menengah yang tidak memperhatikan unsur kerindangan. Seolah-olah tiada sama sekali kesadaran bahwa kerindangan juga diperlukan untuk menjaga keteduhan dan kualitas udara di lingkungan dimana perumahan itu dibangun. Apalagi di tengah kota Jakarta, pepohonan benar-benar menjadi mahluk langka.
Di Singapura, hidup serasa dikelilingi perkebunan. Pohon-pohon tinggi nan rindang ada di sedekat mata memandang dan semuanya tertata rapi dan terawat dengan baik. Tidak hanya di perumahan, di jalan-jalan protokol, di tengah-tengah kota megapolitan, semuanya rindang dan hijau royo-royo kayak PKB Gusdur.. Hehe Jadi ga nyambung deh... :)
Entah berapa banyak biaya yang dikeluarkan pemerintah Singapura untuk menjaga dan merawat kerindangan itu. Yang pasti, hidup jadi terasa lebih teduh dan semilir dengan dikelilingi oleh hijau pepohonan.....
Dulu waktu saya masih kecil, di kampung saya daerah Kendal Jawa Tengah masih ada beberapa petak kebun dan beberapa rumah yang menanam pohon jambu atau mangga. Sekarang semua hilang dan dipenuhi oleh bangunan-bangunan yang sama sekali tidak menyisakan tempat untuk ditanami pepohonan.
Pengen kalo pulang mbilangin ke pak RT supaya nanem pohon tapi apa daya kalo tanahnya emang udah penuh sesak oleh bangunan.... :(

Silakan liat Photo-photo laen dari cerita ini.
Kalo kamu suka ama ini cerita, jangan lupa isi komentarnya di bawah dan voting disini ya ?

Tidak Ada Minyak Tanah

Hari ini. Detik ini. Saya ingin mengungkapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas kenaikan harga BBM di negriku tercinta Indonesia Raya. Terutama kenaikan drastis 185.7% harga minyak tanah yang kita semua tahu bahwa minyak tanah adalah BBM-nya wong cilik. Entah apa yang ada di benak para pemimpin yang terhormat sehingga begitu teganya menyakiti hati wong cilik dan membuat hidup mereka yang sudah susah menjadi lebih menderita. Saya prihatin...
Sekedar berbagi, di Singapore sini tidak ada monopoli dalam BBM. Beberapa pemain utama BBM ada disini seperti Caltex, Esso, Shell, Mobil dan SPC sehingga harga-harganya pun bersaing. Harga bensin dijual dengan harga berkisar S$1.7 sedangkan solar berkisar S$1.07. Disini setiap sen sangat berharga sehingga ada satu portal PetrolWatch yang bisa dipakai buat referensi untuk mencari harga BBM yang termurah dan terdekat.
Disini saya tidak menemukan minyak tanah karena mungkin seluruh penduduknya memakai elpiji untuk memasak. Elpiji yang untuk perumahan-perumahan baru langsung disupply oleh perusahaan pemerintah sedangkan untuk perumahan lama masih membeli tabung gas dari pengecer yang harganya untuk tabung 12 liter adalah berkisar S$22.5.
Demikian sekilas tentang BBM di Singapura.

Friday, September 30, 2005

Intermezzo: Maju Karena Lagu Kebangsaan

Menonton berita-berita di TV yang memperlihatkan demo BBM dan antrian panjang rakyat Indonesia yang sampai antre berjam-jam cuma sekedar untuk mendapatkan 2-3 liter minyak tanah, hati ini begitu trenyuh. Gerangan dosa apa yg bangsa ini telah perbuat sehingga setelah 60 tahun merdeka bukan kemajuan yang didapat justru kemunduran. Rasanya bangsa Indonesia terlalu kaya dan terlalu punya segalanya untuk bisa terpuruk seperti kondisi sekarang ini. Segala macam sumber daya alam kita punya. Sumber daya manusia pun tidak kurang dengan bertebarannya profesor-profesor lulusan luar negeri dan beberapa yang masih kuliah dan mendapat beasiswa di Singapura... :)
Semalam saya bermimpi bertemu dengan jin yang sok tahu. Saya diminta untuk menanyakan satu hal yang hari-hari ini saya benar-benar pengen tahu jawabnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, saya pun menanyakan kegundahan yang saya paparkan di atas tentang mengapa bangsa Indonesia yang 'punya segala-galanya' justru saat ini jalan di tempat, sementara Singapura yang notabene 'tidak punya apa-apa' justru melesat kemajuannya bak meteor. Bahkan beberapa asset kritikal bangsa Indonesia telah terbeli oleh Singapura yang salah satunya adalah Indosat.
Apa jawab sang jin sok tahu ? Ini semua karena bangsa Indonesia salah memilih lagu kebangsaan. Liat aja syairnya lagu kebangsaan Indonesia tercinta :

Indonesia tana airku
Tanah tumpah darahku
....
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Karena itulah negara Indonesia hanya bisa merdeka dan kemudian hidup pas-pasan dan ngga maju-maju. Bandingkan dengan lagu kebangsaan Singapura yang syairnya :

Mari kita rakyat Singapura sama-sama menuju bahagia
.....
Marilah kita bersatu
Dengan semangat yang baru
Marilah kita berseru
Majulah Singapura
Majulah Singapura

Hmmmm.. logis juga neh jawaban jin sok tahu, pikir saya.

Dalam hati saya kemudian berkata, andai saja dulu lagu "Garuda Pancasila" yang jadi lagu kebangsaan negeriku tercinta ini...

Garuda Pancasila
Aku lah pendukungmu
...
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju

Hayooo siapa yang berani usul ke pak RT supaya lagu kebangsaan kita diganti ? :)
Atau usul ke kawan DPR yang hobinya studi banding dan bentar lagi naek gaji ? :p

Generasi Playground



Masa depan suatu negara ditentukan oleh generasi penerusnya. Kata-kata ini tentu sudah tidak asing bagi kita. Kesuksesan mencetak generasi muda yang tangguh adalah kunci sukses sebuah negara. Namun sadarkah kita bahwa terbentuknya generasi muda yang baik harus bermula dari generasi anak-anak yang baik pula ? Inilah mungkin yang ada di benak para pemangku jabatan di pemerintahan Singapura sehingga tidak segan-segan untuk memfasilitasi generasi anak-anaknya tidak hanya dengan pendidikan dasar yg murah tapi juga dengan menyediakan arena bermain (playground) buat anak-anak hampir di setiap lingkup flat (perumnas) yang ada di Singapura. Untuk membangun arena bermain ini juga tidak asal-asalan tapi memperhatikan detail keamanan dan kenyamanan bermain buat anak-anak. Kembali saya tercenung dengan begitu seriusnya pemerintah Singapura dalam memfasilitasi generasi anak-anaknya dalam membentuk keseimbangan mental belajar dan bermain untuk mencetak generasi anak-anak yang sehat dan cerdas. Terbayang di negeri tercintaku Indonesia Raya, begitu sulitnya anak-anak untuk menemukan arena bermain yang gratis di tempat-tempat umum. Arena bermain hanya tersedia di sekolah-sekolah dan itupun tidak ada jaminan telah dibangun memperhatikan detail keamanan dan kenyamanan. Di perumahan-perumahan mewah mungkin ada tapi tidak banyak dan juga belom jaminan gratis. Bagaimana dengan di kampung-kampung dan perumahan-perumahan menengah ke bawah ? Kembali saya ingin bertanya, adakah yang berani memberitahukan tentang ini ke pak RT masing-masing ? Bilangin juga ke pak RT, anak-anak tidak cuma perlu belajar dan menangis tapi mereka juga butuh bermain. Hehehe.. ntar malah dimintain sumbangan buat bikinnya berhubung pemerintah juga lagi puzing mikirin demo BBM :)
Photo-photo lain ada disini.

Thursday, September 29, 2005

Sekolah (Dasar) Murah


Masih hangat dalam ingatan saya pada tahun 2002 memasukkan anak sekolah di TK Al Azhar Kemang Pratama Bekasi harus membayar uang masuk Rp 10 juta dan uang SPP bulanan Rp 300 ribu. Pertengahan tahun 2003 anak saya pindah ke Singapura dan masuk ke SIS (Sekolah Indonesia Singapura) membayar uang masuk S$300 dan SPP bulanan sebesar $97. Awal tahun 2005 anak saya pindah ke sekolah lokal Singapura Bedok Green Primary School tanpa sepeserpun membayar uang masuk dan hanya membayar SPP bulanan S$13. Dari sini anda bisa menilai begitu murahnya biaya pendidikan dasar di Singapura yang tentunya tidak terlepas dari besarnya subsidi pemerintah Singapura terhadap dunia pendidikan. Uniknya lagi, saya sangat terkejut ketika $3 dolar uang saku yang saya berikan ke anak saya hanya dihabiskan $1,5 karena makanan-makanan yang ada di kantin sekolah pun ikut disubsidi oleh pemerintah. Udah gitu kalo anda klik fasilitas-fasilitas yang tersedia di sekolah ini anda pasti terkesima karena fasilitas SD koq bisa melebihi kebanyakan fasilitas kampus di Indonesia. Hmmm… bukan saya mau merendahkan dunia pendidikan di Indonesia. Cuman dari sini kita bisa belajar bahwa sudah seharusnya pemerintah Indonesia lebih memperhatikan dunia pendidikan dan menyediakan anggaran yang memadai untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia… Ceilee.. gaya amir gue yak.. hahaha..

Wednesday, September 28, 2005

Setapak Berkerikil Buat Pijat Refleksi




Di Singapura sini jangan heran kalo anda melihat banyak manula yang berjalan tertatih-tatih di atas jalanan setapak berkerikil. Anda pasti bertanya-tanya gerangan apakah yang para manula itu sedang lakukan ? Jawabnya, mereka sedang melakukan pijat refleksi gratis. Setapak Berkerikil (SB) ini banyak didapati di bawah flat-flat di Singapura dengan desain yang beraneka ragam. Kadang timbul pertanyaan di hati saya, benarkah kerikil-kerikil itu ada manfaatnya ? Memang untuk menjawab hal ini diperlukan riset yang mendalam. Namun ada satu hal yang membuat saya yakin bahwa kerikil-kerikil itu pasti membawa manfaat buat yg melakukan pijat dengan berjalan di atasnya karena melihat keseriusan pemerintah Singapura dalam pengadaan SB ini. Tidak hanya di bawah flat-flat, di taman-taman kota bahkan di dalam area industri pun ada. Salah satunya ada di foto di atas yang saya ambil dari SB di dekat kantor saya. Amankah SB ini ? Memang SB ini tidak dianjurkan untuk semua orang dan peraturan di bawah ini mesti dibaca dan dipatuhi.


Di beberapa tempat, SB didesain dengan cukup rumit dengan membedakan tingkat ketajaman dari kerikil-kerikil yang ditaburkan sehingga ‘katanya’ akan lebih memberikan manfaat yang optimal dalam melakukan pijat refleksi. Benarkah ? Jujur saja, saya kurang tahu. Yang pasti, kita bisa belajar dari hal yang kelihatan sepele ini untuk bisa kita adakan di perumahan-perumahan yang ada di Indonesia sehingga memberi kesempatan kepada para manula untuk bisa mendapatkan pijat refleksi secara gratis dan membangun kesadaran bahwa kesehatan tetap harus dijaga sampai usia berapapun.
Ada yang berani meneruskan tentang ini ke ketua RT masing-masing ? :)

Tuesday, September 27, 2005

Perumnasnya Singapura



Berbeda dengan di Indonesia, sedihnya di Singapura adalah rumah tanah (landed property) yang sangat mahal dikarenakan kecilnya negara Singapura. Karena itulah sebagian besar rakyat Singapura tinggal di rumah susun atau flat atau HDB kalo orang Singapura bilang. HDB (Housing & Development Board) adalah perumnasnya Indonesia. HDB adalah kaki tangan pemerintah dalam penyediaan rumah rakyat. Kalo di Indonesia hampir mayoritas rakyatnya tinggal di rumah tanah, tidak demikian dengan Singapura. Disini kebanyakan rakyatnya tinggal di flat (HDB) dan sebagian yang lain tinggal di apartemen, kondominium dan rumah tanah. Bagaimana harga flat tersebut ? Hmmm.. mahal booo. Harga sewa flat-nya saja SGD$1000an per bulan. Kalo harga sewa kondominium yang standar berkisar SGD2000-$3000an per bulan. Bayangin kalo kita sewa rumah di Indonesia, bisa dapet setahun kan ? Tentu dengan type dan fasilitas yang sama. Foto-foto di atas adalah contoh HDB ala Singapura yang seperti kandang burung kalo saya merasakan akhir-akhir ini... :(
Berapa harga flat tersebut ? Memang masalah harga sangat relative dengan tipe HDB-nya namun saya akan beri contoh bahwa ada beberapa orang teman kantor saya - orang Indonesia juga - yang berlebih rezekinya dan sudah membeli HDB tipe 3 kamar tidur luas kira-kira 100m persegi dengan harga seputar SGD$260-280 ribu atau sekitar Rp 1,7 Milyar kalo dirupiahkan (glekk)… Wah temen-temen saya tajir (banyak uang) dong… Hmmm nanti dulu, harga tersebut tentu saja harga kredit atau KPR kalo istilah kita di Indonesia. Berapa tahun mencicilnya ? Bisa 30-35 tahun tergantung dengan besarnya uang muka dan juga usia pembeli. Apakah flat HDB itu bangunan baru ? Tidak. Usia bangunannya sudah 8 tahunan karena memang untuk orang asing pemegang Permanent Resident (PR) tidak diijinkan untuk membeli HDB baru alias harus resale dari pasar property. Ruginya juga, hak kepemilikan flat HDB tersebut cuma hak guna pakai sampai 99 tahun bukan hak milik seperti di kebanyakan di Indonesia.

Lalu apa untungnya beli rumah di Singapura ? Masih ingat dengan harga sewa flat HDB yang saya sebutkan di atas ? Harga sejumlah S$1000an tersebut bisa digunakan untuk membayar cicilan flat tiap bulan sebagai ganti dari membayar sewa. Jadi uang kita tidak terbuang percuma untuk membawar sewa. Berapa uang muka untuk membeli flat tersebut ? Dulu waktu teman-teman saya beli uang mukanya sekitar 20% dan sekarang sudah diperkecil menjadi 10% untuk menggairahkan pasar dan menjaga kestabilan harga flat HDB tersebut.
Apa yang bisa kita pelajari dari ‘perumnas’ Singapura ini ? Adalah bagaimana HDB memberikan subsidinya kepada rakyat Singapura yang disesuaikan dengan berbagai kriteria yang salah satunya adalah pendapatan. Dalam hal ini, pemerintah Singapura memberikan Besarnya pendapatan akan berpengaruh dengan tipe flat yang bisa dibeli. Orang yang pendapatannya besar harus membeli flat dengan tipe yang besar dan subsidi pemerintah yang kecil. Begitu pula sebaliknya, orang dengan pendapatan kecil harus membeli flat yang tipe kecil tapi dengan subsidi yang lebih besar. Jadi dalam hal ini subsidi benar-benar sampai ke sasaran.
Uniknya pemerintah Singapura juga memberi subsidi tambahan kepada orang yang membeli flat berdekatan dengan orang tuanya agar dalam hal ini anak dapat lebih dekat memperhatikan orang tuanya apabila usia mereka sudah lanjut. Hmmm… sampe segitunya yach…
Bandingkan dengan apa yang sudah diperbuat oleh perumnas dalam menyediakan perumahan rakyat.

Monday, September 26, 2005

Belajarlah Walau Ke Singapura

Cuti 3 minggu di rumah jadi bingung mau ngapain. Apalagi kalo semua udah pada bobo. Akhirnya kepikiran buat bikin blog. Tapi blog yg macem mana ya ? Abis dipikir-pikir lage, satu demi satu ide bermunculan... akhirnya terbersit untuk menulis blog yg laen drpd yg laennya. Terus terang aja, sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di Singapura, seringkali dalam hati bertanya-tanya kenapa gerangan negaraku begitu tertinggal bila dibandingkan dengan kemajuan-kemajuan yg telah diraih oleh Singapura. Kenapa negara yang 'tidak punya apa-apa' ini begitu maju dan kaya sementara negaraku Indonesia tercinta yang 'punya segalanya' justru sekarang masih terperosok dalam kubangan permasalahan yang tanpa ujung. Untuk itu, dengan membaca bismillah, saya bertekad untuk menulis apa-apa yg telah dicapai oleh Singapura dari kacamata awam 'wong ndeso' macem saya ini yang saya berharap dapat dibaca oleh segenap rakyat Indonesia sehingga dapat memberikan sumbangsih bagi meningkatkan kecerdasan rakyat Indonesia dikarenakan tumbuhnya semangat untuk senantiasa belajar dari yang lebih sukses yang dalam hal ini adalah negara 'jiran' Singapura....
Semoga tulisan-tulisan saya nanti bisa membawa manfaat... Terutama buat diri saya sendiri...